Jakarta, 18 Februari 2026 – Di tengah meningkatnya tekanan krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi ekosistem yang berdampak langsung pada dunia usaha, perusahaan dituntut untuk mampu memahami serta mengelola dampak dan ketergantungannya terhadap alam secara terukur dan berbasis sains.
Menjawab tantangan ini, Bestari Sustainability, selaku Koordinator Regional Science Based Targets Network (SBTN) untuk Asia Tenggara, bersama Equatorise, KADIN Net Zero Hub, TÜV SÜD, dan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) menyelenggarakan “SBTN Technical Workshop: Mapping Business Impact on Nature SBTN Step 1 – Assess”.
Acara yang berlangsung hari ini di Menara Kadin Indonesia dihadiri oleh 70 peserta dari, lembaga internasional, asosiasi bisnis, perwakilan perusahaan, serta anggota SBTN Southeast Asia Working Group. Kehadiran ini menandai menandai komitmen kuat lintas sektor untuk dapat mengakselerasi langkah bisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap alam.
Langkah Awal Memahami Dampak Bisnis terhadap Alam
SBTN merupakan kerangka kerja global yang memandu perusahaan menyusun strategi bisnis yang selaras dengan pemulihan alam (nature positive), mencakup aspek iklim, air, lahan, laut, dan keanekaragaman hayati. Dalam workshop ini, peserta fokus mempelajari langkah pertama dari lima langkah SBTN, yaitu “Step 1: Assess”.
Langkah pertama ini adalah fondasi krusial. Di sini, perusahaan diajak untuk memetakan secara sistematis di titik mana saja operasi mereka bersentuhan dengan alam. Hasilnya, mereka bisa menentukan prioritas aksi yang paling berdampak, sekaligus mengidentifikasi risiko dan peluang bisnis ke depan. Pemahaman ini menjadi bekal penting untuk penyusunan laporan keberlanjutan yang mengacu pada standar GRI dan TNFD.
Mengakselerasi Penerapan SBTN Untuk Mencapai Target Nature Positive
Di dalam sambutannya, Tomi Haryadi selaku Direktur Bestari Sustainability berharap perusahaan dapat menerapkan SBTN dalam operasional perusahaan.
“Saat ini, dunia usaha memiliki dampak yang besar sekaligus ketergantungan yang signifikan terhadap alam. Dengan banyaknya perusahaan global yang telah menerapkan SBTN, kami harap, Asia Tenggara dapat memimpin dalam mendorong transisi menuju praktik bisnis yang nature positive.”
Senada dengan hal tersebut, Director, Head of Sustainability Strategy Transition Advisory Equatorise, Christy Zakarias, menjelaskan bahwa perkembangan isu nature saat ini masih berada pada tahap yang relatif baru dibandingkan isu climate. Ia menilai, jika melihat dinamika global, posisi isu alam hari ini kurang lebih setara dengan posisi isu iklim lima tahun lalu secara ekosistem yang ada.
“Isu nature saat ini kurang lebih sama dengan isu climate di 5 tahun yang lalu, mulai dari perkembangan metodologi, koalisi, dan bahkan pemain (stakeholder) yang ada, padahal satu sama lain sebetulnya complementary dan kedepannya target iklim tidak bisa dipisahkan dari target alam”
Dalam paparannya, Sustainability Analyst TÜV SÜD, Kenny Lo, juga memaparkan bahwa saat ini, dependensi perusahaan terhadap alam sangat tinggi, dan ini sangat berdampak terhadap resiko keuangan dan material.
“Lebih dari 50% GDP di dunia bergantung pada alam, dengan sekitar 12-15% nilai GDP dunia berada pada resiko. Selain itu, lebih dari 1 juta spesies terancam punah akibat kerusakan alam yang terjadi dan ini akan berdampak pada hilangnya potensi ekonomi sebesar $2.7 triliun dolar AS”
Dalam sesi terakhir sekaligus penutup, Executive Director Indonesia Business Council on Sustainable Development (IBCSD), Indah Budiani, menegaskan bahwa SBTN Step 1 bukan sekadar kepatuhan terhadap isu biodiversitas, melainkan fondasi penting untuk perencanaan transisi net zero dan integrasi strategi nature positive.
“Assessment without strategy equals compliance. Assessment with strategy equals transformation,” tegas Indah, seraya menekankan pentingnya menghubungkan asesmen alam dengan strategi bisnis dan prioritas nasional untuk mendorong transformasi yang nyata.
Melalui workshop ini, Bestari Sustainability bersama para mitra menegaskan komitmennya untuk memfasilitasi dunia usaha melangkah dari sekadar komitmen menuju aksi nyata berbasis sains. Upaya ini diharapkan dapat mengakselerasi transisi menuju pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, berketahanan, dan nature positive di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
Tentang Bestari Sustainability
Bestari Sustainability merupakan lembaga konsultasi dan implementasi keberlanjutan yang berfokus pada strategi transisi menuju net zero. Melalui pendekatan berbasis sains, Bestari Sustainability membantu perusahaan menyusun strategi, mengukur dampak, serta melaporkan kinerja keberlanjutan sesuai standar global.
Kontak Media:
Nama: Nailah Shabirah
Jabatan: Manager
Email: [email protected]
Telepon: +62-857-1498-5670